MONUMEN PANCASILA SAKTI DAN LUBANG BUAYA SEBAGAI SARANA ORDE BARU UNTUK MENGKOMUNIKASIKAN INGATAN TENTANG PERISTIWA G30SPKI 1965

Authors

  • Fera Rohayani Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  • Zidan Malik Hidayat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  • Ahmad Haikal Afdillah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  • Ikhsan Ahmad Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

DOI:

https://doi.org/10.61722/jssr.v4i6.13153

Keywords:

Monumen Pancasila Sakti, semiotika Roland Barthes, komunikasi visual, ideologi Orde Baru, memori kolektif

Abstract

Monumen Pancasila Sakti dan kawasan Lubang Buaya merupakan media penyampaian narasi sejarah G30S/PKI 1965 pada masa Orde Baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam representasi visual monumen menggunakan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui dokumentasi visual dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa patung Pahlawan Revolusi, diorama, dan sumur Lubang Buaya merepresentasikan kepahlawanan, pengorbanan, serta ancaman terhadap ideologi negara. Representasi tersebut berkaitan dengan narasi sejarah Orde Baru dan pembentukan memori kolektif. Namun, narasi monumen tidak sepenuhnya mencakup beragam pengalaman masyarakat terhadap peristiwa 1965.

 

References

Damm, M. (2018). Lubang Buaya, Kuburan Para Pahlawan: Abjeksi dalam Historiografi Peristiwa 1 Oktober 1965. Antropologi Indonesia, 38(2).

Made, N., Pradnyantari, M., Kertih, I. W., & Yanti, P. R. (2026). Merawat Ingatan , Mengokohkan Bangsa : Relevansi Sejarah Kekerasan Lubang Buaya Dalam Mengokohkan Ketahanan Ideologi Pancasila. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026, 7(1989), 142–153.

Munsi, H. (2016). Dari Masa Lalu ke Masa Kini : Memori Kolektif , Konstruksi Negara dan Normalisasi Anti-Komunis. Jurnal Etnosia. Vol. 01, No. 01 Juni 2016. Dari, 01(01), 30–43.

Nurhalim, A., Iskandar, F., & Aisyel, H. (2026). Makna Visual Poster Film Sore : Istri dari Masa Depan dalam Semiotika Roland Barthes. 1(1), 17–22.

Putri, A. K. (2025). The Role of Provincial Museums in Shaping Collective Memory during Indonesia’s New Order Era, 1990-1998. Warisan: Journal of History and Cultural Heritage, 6(2), 105–111.

Putri, S. A. (2024). The Politics of Representation of the G 30 S Incident at the Museum of Monumen Pahlawan Pancasila. Journal of Philology and Historical Review, 2(1), 44–61.

Rahman, A., Ibrahim, H., Prasetyo, O., Usman, U., & Riyani, M. (2024). History and National Integration: A Study of Collective Memory of Tamiang Monuments in Medan 1894. Indonesian Historical Studies, 8(2), 189–202.

Rizqullah, Z. (2026). Memori Kolektif Masyarakat Lubang Buaya dalam Peristiwa G30S 1965. 8(2), 71–90.

Saefudin, D., Mulyadi, & Nurani, S. (2025). Visualizing History: Narrative and Discourse Analysis of Historical Dioramas at Museum Sejarah Nasional Indonesia. Journal of English Language Learning, 9(2), 169–179.

Tabina, Y., & Wahidiyat, M. P. (2021). Visualizing G30s/PKI Tragedy Through Interactive Projector Media at Monumen Pancasila Sakti. Ultimart: Jurnal Komunikasi Visual, 14(2), 150–159.

Downloads

Published

2026-10-20