Koordinasi Badan Permusyawaratan Desa dengan Kepala Desa dalam Pembentukan Peraturan Desa di Desa Cimaragas Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis

Authors

  • Astri Anjani Universitas Galuh
  • Regi Refian Garis Universitas Galuh
  • Fachmi Syam Arifin Universitas Galuh

DOI:

https://doi.org/10.61722/jinu.v3i6.12583

Keywords:

coordination, Village Consultative Body, Village Head, Village Regulation, village governance.

Abstract

This study was motivated by the suboptimal coordination between the Village Consultative Body (BPD) and the Village Head regarding the formulation of Village Regulations in Cimaragas Village, Cimaragas District, Ciamis Regency. Effective coordination is essential to ensure the Village Regulation formulation process proceeds in a focused and participatory manner, in accordance with the respective duties and authorities of each party. This study aims to examine the coordination between the BPD and the Village Head in formulating Village Regulations in Cimaragas Village. A descriptive qualitative method was employed. Data were collected through interviews, observation, and documentation involving five informants: the BPD Chairperson, the Village Head, the Village Secretary, a BPD member, and the Head of the Village Government Section. The analysis of coordination utilized the principles outlined by Wardhana (2024): recognition of shared resources, producer-consumer relationships, simultaneity constraints, and task-subtask interdependence. The results indicate that coordination between the BPD and the Village Head regarding Village Regulation formulation has proceeded reasonably well but has not yet reached optimal levels. Regarding the recognition of shared resources, both parties understand their respective duties, functions, and procedures and utilize their individual capabilities; however, differences in understanding regulations and technical provisions persist. In terms of producer-consumer relationships, communication and openness have been maintained through meetings, deliberations, and joint discussions, although challenges regarding scheduling and differences of opinion remain. Regarding simultaneity constraints, coordination and scheduling adjustments across stages have been implemented but are not fully optimal due to the parties' respective busy schedules. Meanwhile, concerning task-subtask interdependence, the division of duties and responsibilities is clearly defined, though coordination is still required when differences arise regarding regulatory interpretations or the follow-up to discussions. Efforts to address these obstacles include continuous communication, deliberation, discussion, alignment of perceptions, regulatory consultation, and schedule adjustments. Therefore, sustained improvement in coordination is necessary to ensure that the formulation of Village Regulations in Cimaragas Village proceeds more effectively and in accordance with applicable regulations.

 

References

Abdussamad, Z. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Syakir Media Press.

Anwar, K. (2015). Hubungan Kerja Antara Kepala Desa Dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, 3(2).

Ardilah, T. (2014). Upaya Kepala Desa Untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Desa (Studi Di Desa Bareng Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang) (Doctoral dissertation, Brawijaya University).

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Badan Permusyawaratan Desa

Brosius, M., Aier, S., & Haki, K. (2017). Introducing a Coordination Perspective to Enterprise Architecture Management Research. International Enterprise Distributed Object Computing Workshop (EDOCW), Quebec City, QC, Canada, 2017. 71-78

Chutmaisinthia, M. V. I. (2016). Koordinasi Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam Penyaluran Dana Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di Desa Ngepanrejo Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Diniyanto, A. (2022). Desain Pembentukan Peraturan Desa yang Demokratis dan Aspiratif. Jurnal Legislasi Indonesia, 19(3), 353-367.

Hall, K L., Vogel, A L., & Crowston, K. (2019). Comprehensive Collaboration Plans: Practical Considerations Spanning Across Individual Collaborators to Institutional Supports. Springer Nature. 587-612.

Jannah, B. U., Mufidah, A. N., & Jayanti, D. (2024). Koordinasi Sebagai Indikator Dalam Organisasi Pendidikan. CERMIN: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Berbasis Islam Nusantara, 3(2), 36-39.

John-Eke, E. C., & Akintokunbo, O. O. (2020). Conflict Management as a Tool for Increasing Organizational Effectiveness: A Review of Literature. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 10(5), 299-311.

Kartini, I. A. (2018). Tinjauan Terhadap Pelaksanaan Legal Drafting (Penyusunan Peraturan Perundang-undangan) di Tingkat Desa Sesuai Undang-undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa. Kosmik Hukum, 18(1).

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (2015). Koordinasi pengelolaan program jaminan sosial (Analisis Kebijakan Prosedur Kerja dalam Koordinasi, Sinkronisasi, dan Pengendalian Bidang Jaminan Sosial). Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. (2014). Koordinasi dan kolaborasi: Bahan ajar Diklat Kepemimpinan Aparatur Pemerintahan Tingkat IV. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia.

Madhavika, W., Jayasinghe, N., Ehalapitiya, S., Wickramage, T., Fernando, D., & Jayasinghe, V. (2022). Operationalizing Resilience Through Collaboration: The Case of Sri Lankan Tea Supply Chain During Covid-19. Springer Science+Business Media, 57(4), 2981-3018.

Mahmuda, D., & Darmawan, W. B. (2022). Koordinasi BPD dengan Kepala Desa dalam Pembentukan Perdes di Desa Cileles Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Jurnal Pemerintahan Dan Kebijakan (JPK), 3(3), 164-172.

Ndraha, Taliziduhu. (2003). Kybernologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Nugrahani, F. (2014). Metode Penelitian Kualitatif: Dalam Penelitian Pendidikan Bahasa. Surakarta: Pustaka Cakra.

Pasal 18B ayat (2) UUD NRI Tahun 1945

Peraturan Bupati Ciamis Nomor 35 Tahun 2022 Tentang Tugas, Fungsi, dan Tata Kerja Unsur Organisasi Kecamatan dan Kelurahan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa

Peraturan Pemerintah No. 72 tentang Desa

Ramdhan, M. (2021). Metode Penelitian. Jakarta: Cipta Media Nusantara (CMN).

Rinto, M., Muhiddin, A., & Mone, A. (2021). Koordinasi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dengan Kepala Desa dalam Perencanaan Pembangunan di Desa Laikang Kabupaten Takalar. Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa, 2(1), 24-37.

Rosidin, U. (2019). Partisipasi Masyarakat Desa dalam Proses Pembentukan Peraturan Desa yang Aspiratif. Jurnal Bina Mulia Hukum, 4(1), 168-184.

Setyaningrum, C. A., & Wisnaeni, F. (2019). Pelaksanaan fungsi Badan Permusyawaratan Desa terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 1(2), 158-170.

Silalahi, Ulber. (2017). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama.

Stensrud, R., Valaker, S., & Haugen, T. (2020). Interdependence as an Element of the Design of a Federated Work Process. 2020 1-6.

Sugiyono. (2023). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (Edisi kedua, Cetakan ke-5). ALFABETA.

Sujarweni, VW (2014). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Pers.

Tersiana, A. (2018). Metode Penelitian. Jakarta: Anak Hebat Indonesia.

Undang-Undang Nomor 15 tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Wardhana, A. (2024). Management (planning, organizing, leading, coordinating, controlling) – Edisi Indonesia. Eureka Media Aksara.

Widjaja, H.A.W., 2008. Otonomi Desa: Merupakan Otonomi yang Asli, Bulat dan Utuh. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Downloads

Published

2026-09-01