Disharmoni Hukum Waris Tanah di Nusa Tenggara Timur: Analisis Yuridis Putusan Pengadilan Negeri Kupang jo. Mahkamah Agung Nomor 1505 K/Pdt/2020 dalam Sengketa Ahli Waris Konay
DOI:
https://doi.org/10.61722/jinu.v3i3.9960Keywords:
ratio decidendi, customary inheritance law, living law, customary land, legal pluralism, East Nusa TenggaraAbstract
The customary land inheritance dispute of the Konay family in Kupang City, East Nusa Tenggara, culminating in Supreme Court Decision Number 1505 K/Pdt/2020, represents a structural tension between state law and customary law as living law within Indonesia’s legal system. Employing a normative legal method through case and conceptual approaches, this study analyzes the construction of the judges’ ratio decidendi and examines the extent to which the decision accommodates the existence of customary law in determining inheritance subjects. The analysis reveals that the ratio decidendi was constructed upon three hierarchical pillars: proof of genealogical relations, validation of prior judgments dating to 1951, and affirmation that the plaintiff lacked a valid legal basis. This construction reflects the dominance of legal positivism, reducing customary law’s complexity to formal evidentiary standards, thereby producing a phenomenon of forced formalization of adat. The decision recognizes the land’s status as ancestral clan land only rhetorically, without transforming it into a substantive foundation of legal reasoning. The disharmony is structural in nature, reflecting the persistent gap between the normative recognition of customary law and its judicial implementation in Indonesian court practice.
References
Atas penolakan kasasi ini, Pieter Johannes Konay alias Piet Konay bersama Elimelek Sutay alias Eli Sutay dikabarkan menggelar konferensi pers menolak putusan MA Nomor 1505. Lihat: “Piet Konay dan Eli Sutay Diduga Jaringan Mafia Tanah di Kota Kupang,” katantt.com, 6 Maret 2021.
Bedner, A., & Arizona, Y. (2019). Adat in Indonesian land law: A promise for the future or a dead end? The Asia Pacific Journal of Anthropology, 20(5), 416–434.
Brian Z. Tamanaha, “Understanding Legal Pluralism: Past to Present, Local to Global,” Sydney Law Review 30, No. 3 (2008): 375-411. Dalam konteks Indonesia, lihat: Otje Salman Soemadiningrat, Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer (Bandung: Alumni, 2002), hlm. 45-50.
Butt, S. (2014). Traditional land rights before the Indonesian constitutional court. Law, Environment and Development Journal, 10(1), 1–15.
Davidson, J. S. (2007). The revival of tradition in Indonesian politics: The deployment of adat from colonialism to indigenism. Routledge.
Fence M. Wantu, “Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan dalam Putusan Hakim di Peradilan Perdata,” Jurnal Dinamika Hukum 12, No. 3 (2012): 479-489. Lihat juga: I Gde Pantja Astawa dan Suprin Na’a, Dinamika Hukum dan Ilmu Perundang-undangan di Indonesia (Bandung: Alumni, 2008), hlm. 103-108.
Fina Rahmawati dan Adhi Budi Susilo, “Analisis Yuridis Tentang Sengketa Tanah Waris,” ADIL Indonesia Journal (2022).
Fitzpatrick, D. (2006). Evolution and chaos in property rights systems: The third world tragedy of contested access. Yale Law Journal, 115(5), 996–1048.
Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 7-10. Lihat juga: Dominikus Rato, “Hukum Waris Adat: Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam Sistem Hukum Nasional,” Jurnal Rechtsvinding 6, No. 1 (2017): 1-15.
Iwan Erar Joesoef, “Pemberian Konsesi kepada Investor di atas Tanah Adat dan Eksistensi Hukum Adat,” Jurnal Hukum dan Peradilan 10, no. 3 (2021): 361–379.
Mahkamah Agung RI, Putusan Nomor 1505 K/Pdt/2020 tanggal 17 Juni 2020, kasasi dari Putusan PN Kupang Nomor 78/Pdt.G/2018/PN Kpg jo. Putusan PT Kupang Nomor 70/PDT/2019/PT Kpg. Klasifikasi perkara sebagai “Perbuatan Melawan Hukum” tercantum dalam Direktori Putusan Mahkamah Agung RI.
Marthen Konay menyatakan bahwa Pieter Johannes Konay pernah dihukum atas kepemilikan identitas ganda pada 1995 dan diduga mengulangi perbuatan tersebut. Lihat: “Piet Konay dan Eli Sutay Diduga Jaringan Mafia Tanah di Kota Kupang,” katantt.com, 6 Maret 2021. Fakta ini relevan secara yuridis dalam penilaian kapasitas subjek hukum sebagai ahli waris yang sah.
Mahkamah Agung RI, Putusan Nomor 179 K/Sip/1961. Lihat juga: Putusan MA Nomor 1448 K/Sip/1974; serta: Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum: Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis (Jakarta: Gunung Agung, 2002), hlm. 215.
Mahkamah Agung RI, Putusan Nomor 1151 K/PDT/2014 tanggal 19 Mei 2015. Konfirmasi mengenai keterkaitannya dengan obyek sengketa dalam perkara Nomor 1505 K/Pdt/2020 lihat: “Tukar Guling Tanah Lapas Kupang Abaikan Putusan Mahkamah Agung 1955,” katantt.com, 26 Mei 2025.
Marina All Bright Br. Hombing, Rosnidar Sembiring, dan Maria Kaban, “Analisis Yuridis terhadap Sengketa Hak Kepemilikan Tanah Adat,” Jurnal Hukum Lex Generalis 6, no. 4 (2025).
Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Lihat analisis mendalam dalam: Maria S.W. Sumardjono, Kebijakan Pertanahan: Antara Regulasi dan Implementasi (Jakarta: Kompas, 2007), hlm. 52-53; dan Muwahid, “Pembaruan Hukum Agraria di Indonesia,” Jurnal Al-Daulah 7, No. 2 (2017): 373-399
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Edisi Revisi (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2014), hlm. 133-136; Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013), hlm. 13-15.
Riwayat litigasi keluarga Konay yang bersifat lintas generasi ini dikonfirmasi dalam: Marthen Soleman Konay, pernyataan kepada pers sebagaimana dikutip dalam “Tukar Guling Tanah Lapas Kupang Abaikan Putusan Mahkamah Agung 1955,” katantt.com, 26 Mei 2025. Lihat juga: Dominikus Rato, Hukum Adat di Indonesia: Suatu Pengantar (Surabaya: LaksBang Justitia, 2011), hlm. 77-85.
Satjipto Rahardjo, Hukum dalam Jagat Ketertiban (Jakarta: UKI Press, 2006), hlm. 154-158. Lihat juga: Niken Savitri, “Harmonisasi Hukum Adat dan Hukum Negara dalam Penyelesaian Sengketa Tanah,” Jurnal Hukum Ius Quia Iustum 18, No. 3 (2011): 395-416.
Ter Haar, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, terjemahan K. Ng. Soebakti Poesponoto (Jakarta: Pradnya Paramita, 1960), hlm. 210-215. Tentang sistem belis dan implikasinya terhadap hak waris dan afiliasi klan di NTT, lihat: Y. Kristianus, “Suku Manggarai Mencari Identitas,” Jurnal Sosiologi Masyarakat 16, No. 2 (2011): 105-128.
Yohanes G. Tuba Helan, “Eksistensi Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat di Nusa Tenggara Timur dalam Perspektif Hukum Agraria Nasional,” Jurnal Hukum Prioris 4, No. 1 (2014): 31-54. Lihat juga: Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Jilid I (Jakarta: Djambatan, 2008), hlm. 185-190.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 JURNAL ILMIAH NUSANTARA

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










