PERAN NEGARA DALAM KODIFIKASI HUKUM KELUARGA ISLAM DI INDONESIA DAN MALAYSIA

Authors

  • Isman Nuddin Ritonga Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Sukiati Sukiati Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Iwan Iwan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.61722/jssr.v4i4.10980

Keywords:

kodifikasi hukum Islam, hukum keluarga Islam, dispensasi kawin, poligami, perbandingan hukum

Abstract

. Kodifikasi hukum keluarga Islam merupakan bagian penting dari upaya negara dalam mengatur kehidupan masyarakat Muslim secara sistematis melalui perangkat hukum positif. Indonesia dan Malaysia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengkodifikasi hukum keluarga Islam. Indonesia menggunakan pendekatan nasional melalui Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), sedangkan Malaysia menerapkan sistem legislatif berbasis negara bagian melalui Islamic Family Law Enactment. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran negara dalam proses kodifikasi hukum keluarga Islam di kedua negara, menelaah substansi regulasi yang berlaku, serta membandingkan kelebihan dan kekurangannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dengan studi kasus terhadap putusan pengadilan mengenai dispensasi kawin dan poligami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sistem yang lebih terintegrasi secara nasional namun menghadapi tantangan implementasi, sedangkan Malaysia memiliki mekanisme pengawasan yang lebih ketat terhadap praktik keluarga seperti poligami, tetapi regulasinya tidak sepenuhnya seragam antar negara bagian. Secara umum, kedua sistem memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam upaya melindungi hak keluarga Muslim dan menjaga ketertiban hukum

References

Abdurrahman. (2010). Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Akademika Pressindo.

Abdullah, S. (2007). Poligami di Malaysia: Isu dan tantangan dalam perundangan Islam. Jurnal Syariah, 15(2), 45–58.

Ali, A. (2006). Menguak tabir hukum: Suatu kajian filosofis dan sosiologis. Gunung Agung.

Arifin, B. (2010). Pelembagaan hukum Islam di Indonesia: Akar sejarah, hambatan, dan prospeknya. Gema Insani.

Azhari, F. (2020). Kodifikasi hukum keluarga Islam di negara-negara Muslim modern. Antasari Press.

Bisri, C. H. (2003). Peradilan Agama di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada.

Feener, M. R., & Cammack, M. E. (Eds.). (2012). Islamic law in contemporary Indonesia: Ideas and institutions. Harvard University Press.

Harahap, M. Y. (2015). Hukum perkawinan nasional. Sinar Grafika.

Harahap, R., Siregar, H., & Ramadhan, A. (2025). Analisis komparatif batas usia pernikahan di Asia Tenggara: Studi kasus Indonesia dan Malaysia. Jurnal Hukum dan Peradilan Modern, 14(1), 89–104.

Hooker, M. B. (1983). Islam in South-East Asia. Brill.

Hooker, M. B. (1984). Islamic law in South-East Asia. Oxford University Press.

Hooker, M. B. (2019). Indonesian syariah: Defining a national school of Islamic law. Institute of Southeast Asian Studies.

Ibrahim, A. (2000). The Islamic family law in Malaysia. Maiic.

Ibrahim, A. (2006). Sistem undang-undang di Malaysia. Dewan Bahasa dan Pustaka.

Joni, M. (2024). Pluralisme hukum keluarga: Studi perbandingan hukum perkawinan Indonesia dan Malaysia. Jurnal Perbandingan Hukum Nusantara, 6(2), 210–225.

Mahmood, T. (1987). Personal law in Islamic countries: History, text, and comparative analysis. Academy of Law and Religion.

Manan, A. (2008). Aneka masalah hukum perdata Islam di Indonesia. Kencana.

Manan, A. (2017). Dinamika penegakan hukum perdata agama di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada.

Mudzhar, M. A. (1998). Fatwas of the Council of Indonesian Ulama: A study of Islamic legal thought in Indonesia, 1975-1988. INIS.

Mudzhar, M. A. (2012). Studi hukum Islam dengan pendekatan sosiologis. Pustaka Pelajar.

Nurhaliza, S., & Fauzi, A. (2023). Ketentuan izin poligami dalam hukum positif Indonesia: Antara teks normatif dan realitas sosial. Jurnal Hukum Keluarga Islam, 8(2), 145–159.

Nuruddin, A., & Tarigan, A. A. (2016). Hukum perdata Islam di Indonesia: Studi kritis perkembangan hukum Islam dari Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI. Kencana.

Otto, J. M. (2013). Sharia incorporated: A comparative overview of the history, state applications and research in twelve Muslim countries. Leiden University Press.

Peletz, M. G. (2014). Islamic courts, domestic violence, and family law in contemporary Malaysia. Princeton University Press.

Ramadhani, R. (2022). Legalitas hukum poligami di Indonesia: Pembatasan administratif oleh negara. Jurnal Jurisprudence, 11(2), 112–126.

Rishadi, M. (2025). Lonjakan dispensasi kawin pasca amandemen UU Perkawinan: Realitas kedaruratan sosial. Jurnal Kajian Hukum dan Sosial, 10(1), 45–60.

Roff, W. R. (1990). The origins of Malay nationalism. Oxford University Press.

Shuaib, F. S. (2003). Powers and jurisdiction of Syariah Courts in Malaysia. LexisNexis.

Siswanto, A. (2024a). Dilema yudisial hakim Pengadilan Agama dalam penetapan dispensasi kawin pasca Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Jurnal Hukum Perdata Islam, 12(1), 34–51.

Siswanto, A. (2024b). Dampak sosiologis penyelundupan hukum pernikahan siri dalam sistem hukum perkawinan nasional. Jurnal Hukum dan Masyarakat, 9(3), 178–193.

Yaacob, M. (1998). Pentadbiran undang-undang Islam di Malaysia. Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM).

Yusof, M. (2022). Mekanisme kontrol kelayakan finansial permohonan poligami di Mahkamah Syariah Wilayah Persekutuan. Jurnal Undang-Undang Syariah, 19(1), 75–88.

Zam Zami, M., & Bahtiar, A. (2025). Cross-border marriage dan forum shopping dalam praktik hukum keluarga Islam di perbatasan Indonesia-Malaysia. Jurnal Hukum Internasional dan Komparatif, 16(1), 12–29.

Zuhdi, M. H. (2017). Perlindungan hak-hak perempuan dalam undang-undang keluarga Islam di Malaysia. Jurnal Kewanitaan dan Syariah, 5(2), 101–118.

Downloads

Published

2026-06-15