TRANSFORMASI PERAN GURU BK MENJADI MITRA SISWA: INOVASI TEKNOLOGI DAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI DI ERA SOCIETY 5.0

Authors

  • Fitri Wahyuni Azmi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Asbi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Dwi Hairani Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Naila Azzahra Lubis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.61722/jssr.v4i4.11121

Keywords:

guru BK, mitra siswa, inovasi teknologi, kompetensi konselor, Society 5.0, transformasi peran

Abstract

Era Society 5.0 menuntut transformasi mendasar dalam berbagai profesi, termasuk guru Bimbingan dan Konseling (BK). Artikel ini bertujuan mengkaji secara komprehensif bagaimana peran guru BK bertransformasi dari konselor tradisional menjadi mitra kolaboratif siswa melalui integrasi inovasi teknologi dan pengembangan kompetensi di era Society 5.0. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review sistematis terhadap 42 artikel ilmiah dari basis data Scopus, Google Scholar, ERIC, dan jurnal nasional terakreditasi SINTA yang diterbitkan antara tahun 2018–2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi peran guru BK mencakup tiga dimensi utama: (1) adopsi teknologi digital seperti aplikasi konseling berbasis AI, platform e-counseling, dan analitik data untuk deteksi dini permasalahan siswa; (2) reorientasi kompetensi dari pendekatan direktif menuju pendekatan kolaboratif-humanistik; dan (3) penguatan literasi digital dan kecerdasan emosional sebagai kompetensi inti abad ke-21. Temuan ini mengimplikasikan perlunya reformasi kurikulum pendidikan BK, pelatihan berkelanjutan bagi guru BK, serta kebijakan pendukung dari lembaga pendidikan untuk memfasilitasi transisi peran tersebut.

References

American School Counselor Association (ASCA). (2019). ASCA National Model: A framework for school counseling programs (4th ed.). ASCA.

Bayer, J., Bydzovska, H., Geryk, J., Obsivac, T., & Popelinsky, L. (2020). Predicting drop-out from social behaviour of students. International Educational Data Mining Society.

Corey, G., Corey, M. S., Corey, C., & Callanan, P. (2021). Issues and ethics in the helping professions (10th ed.). Cengage Learning.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). (2007). Rambu-rambu penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Dirjen Mandikdasmen.

de Shazer, S., Dolan, Y., Korman, H., Trepper, T., McCollum, E., & Berg, I. K. (2007). More than miracles: The state of the art of solution-focused brief therapy. Haworth Press.

Fitzpatrick, K. K., Darcy, A., & Vierhile, M. (2017). Delivering cognitive behavior therapy to young adults with symptoms of depression and anxiety using a fully automated conversational agent (Woebot): A randomized controlled trial. JMIR Mental Health, 4(2), e19. https://doi.org/10.2196/mental.7785

Fujita, M. (2020). Society 5.0: Co-creating the future. Hitachi Review, 69(1), 2-9.

Inkster, B., Sarda, S., & Subramanian, V. (2018). An empathy-driven, conversational artificial intelligence agent (Wysa) for digital mental well-being: Real-world data evaluation mixed-methods study. JMIR mHealth and uHealth, 6(11), e12106.

Kemendikbud. (2022). Statistik guru bimbingan dan konseling sekolah menengah 2021/2022. Pusdatin Kemendikbud.

Ketut Sukardi, D., & Sumadi. (2022). Preferensi siswa terhadap layanan bimbingan konseling digital: Studi survei di sekolah menengah atas Bali dan Jawa. Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, 7(1), 1-14.

Kitchenham, B., & Charters, S. (2007). Guidelines for performing systematic literature reviews in software engineering (Technical Report EBSE 2007-001). Keele University.

Norcross, J. C., & Lambert, M. J. (Eds.). (2019). Psychotherapy relationships that work: Volume 1: Evidence-based therapist contributions (3rd ed.). Oxford University Press.

Nursalim, M. (2023). Implementasi program bimbingan dan konseling komprehensif berbasis teknologi di era Society 5.0. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 11(2), 145-158.

Rahardjo, S., & Nugroho, A. (2023). Pengembangan sistem deteksi dini berbasis machine learning untuk identifikasi siswa berisiko putus sekolah. Jurnal Teknologi Pendidikan Indonesia, 5(1), 23-38.

Rogers, C. R. (2003). Client-centered therapy: Its current practice, implications and theory. Constable. (Original work published 1951)

Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A visionary new understanding of happiness and well-being. Free Press.

Sibarani, R. S. (2024). Strategi Dalam Membantu Anak yang Mengalami Kesulitan Membaca di Usia Normal Pada Siswa SD. Abdimas Indonesia, 1(2), 26–32.

Sucahyo, A., & Mulyono, H. (2022). Efektivitas implementasi e-counseling dalam meningkatkan jangkauan layanan bimbingan konseling di SMA Surabaya. Jurnal Konseling Indonesia, 7(2), 78-91.

Supriatna, M. (2019). Bimbingan dan konseling berbasis kompetensi: Orientasi dasar pengembangan profesi konselor (Rev. ed.). Rajawali Press.

Tranfield, D., Denyer, D., & Smart, P. (2003). Towards a methodology for developing evidence-informed management knowledge by means of systematic review. British Journal of Management, 14(3), 207-222.

Wibowo, M. E. (2021). Kompetensi konselor sekolah dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 menuju Society 5.0. Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, 5(1), 1-15.

Wibowo, M. E., & Karneli, Y. (2023). Literasi digital guru bimbingan dan konseling: Survei kompetensi dan kecemasan teknologi di Pulau Jawa. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, 9(1), 56-69.

Downloads

Published

2026-06-17