MAKNA TENUN IKAT FUTUS, LOTIS, DAN BUNA MASYARAKAT DESA OENINO KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

Authors

  • Wasti Soni Fina Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • Ronni M. Ndun Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • John D. Fallo Universitas Persatuan Guru 1945 NTT

DOI:

https://doi.org/10.61722/jssr.v4i6.13186

Keywords:

Tenun Ikat; Futus; Lotis; Buna; Semiotika

Abstract

Penelitian ini berjudul "Makna Tenun Ikat Futus, Lotis, dan Buna Masyarakat Desa Oenino, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan". Ronni M. Ndun, S.Pd., M. Hum., Selaku Dosen Pembimbing 1, dan John D. Fallo, S.Pd., M.Pd., Selaku Dosen Pembimbing II. Fokus utama penelitian ini berangkat dari rumusan masalah mengenai: (1) apa makna simbolik yang terkandung dalam tenun ikat Futus, Lotis, dan Buna masyarakat Desa Oenino, serta (2) bagaimana masyarakat Desa Oenino memaknai dan melestarikan ketiga jenis tenun tersebut di tengah perkembangan zaman. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan makna simbolik yang terkandung dalam tenun ikat Futus, Lotis, dan Buna masyarakat Desa Oenino, dan (2) menjelaskan cara masyarakat Desa Oenino memaknai serta melestarikan tradisi tenun ini di era modern. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif untuk memberikan gambaran mendalam mengenai fenomena yang ada. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori semiotika guna membedah tanda-tanda dan simbol yang merepresentasikan nilai budaya serta identitas sosial masyarakat Oenino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tenun Futus Motif (Kai Mnutu) bermakna sebagai simbol ketaatan terhadap aturan adat dan kedisiplinan, di mana pada masa lalu penggunaannya terbatas bagi kaum bangsawan (Usif) sebagai penjaga martabat. (2) Tenun Lotis (Lotis Kaif) mengandung makna persatuan dan kekerabatan yang tidak terputus, digambarkan melalui motif kait-mengait yang melambangkan hubungan harmonis antar sesama. (3) Tenun Buna (Buna Kaif) mencerminkan kompleksitas estetika, nilai gotong royong, serta harapan akan kemakmuran melalui penggunaan warna-warna cerah yang melambangkan keagungan dan kesuburan. Masyarakat Desa Oenino melestarikan tradisi ini dengan menjaga teknik pengerjaan manual yang teliti sebagai identitas kolektif dan media komunikasi budaya antar generasi.

References

Aminuddin, T.(2022). Studi Makna dalam Bahasa.

Betty, N. A. (2024). Futus, Lotis dan Buna: Makna teologis dan peran etika sosial Tenun Ikat Amanuban Barat dalam membentuk harmoni masyarakat Desa Tubuhue-TTS.

Bano, S. (2023). "Eksplorasi Motif Tenun Ikat Desa Oenino sebagai Sumber Belajar Berbasis Budaya". Proceeding Seminar Nasional Pendidikan Budaya, Vol. 4.

Chaer, A. (2013). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Hoed, B. H.(2011). Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya.

La'a, A. S., & Suwartiningsih, S. (2024). Makna Tenun Ikat Bagi Perempuan (Studi Etnografi di Kecamatan Mollo Utara-Timor Tengah Selatan).

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. (Referensi wajib/standar penelitian kualitatif di Indonesia).

Naben, Y. (2022). Data dan analisa teknik Tenun Ikat, Sotis/Lotis, dan Buna.

Nugrahani, F. (2014). Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa. Solo: Cakra Books. (Meskipun 2014, buku ini sering digunakan berdampingan dengan teori Suwandi dalam analisis makna).

Oematan. (2020). Verba Vitae: The shift of habit of wearing woven cloth of the Tanah Putih Village community.

Roland Barthes, (1964) Simiotika analisis mengkaji tanda.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan: Kuantitatif, Kualitatif, R&D. Bandung: Alfabeta.

Sobur, A. (2006/2009) Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Downloads

Published

2026-10-23